Andalan

NIRFANA : SEBUAH CERITA PENDEK

“ berhentilah pada halaman pertama sebelum kau bertemu nirwana yang fana “

Setiap hari, kekasihku jatuh cinta dengan kakao manis. Bahkan ketika cintanya hilang, Ia rela jatuh untuknya, untuk sesuatu yang manis. Kini, Sesuatu yang manis itu telah menelannya hidup-hidup. Entah melayang ke nirwana yang mana, namun Ia benar-benar jatuh kali ini.

Kekasihku adalah maniak coklat. Kemanapun perginya, disegala sisi saku dan tasnya terselip coklat-coklat batangan. Dari yang berwarna pekat sampai coklat putih. Untungnya, ia adalah gadis yang rajin merawat diri. Senyumnya yang tak kalah manis dari belasan jenis coklat yang telah ia coba menjadi alasan utamaku mencintainya bahkan rela ada diurutan ke-12 setelah coklat-coklat tersayangnya.

Sore ini, senjaku kelabu dihari rabu, menambah sendu dengan tumpukan-tumpukan rindu. Aku yakin, Ella sedang asyik dengan coklat batangan sambil merangkul koleksi novel miliknya. Ah, Aku jadi teringat saat memergokinya tertidur lelap diatas novel milik Seno Gumira Ajidarma dengan semangkuk coklat berbentuk setengah lingkaran. Saat itu, aku sudah mencoba menghubunginya, karena gerah pesanku tak segera dibalas, kutancapkan gas membeli sebatang Toblerone sebagai alasan mengunjunginya dikost-an.

Karena rindu, aku menarik ponsel merahku dan menelfon kekasihku. Kuharap kali ini ia tidak sedang tertidur diatas novel milik Seno Gumira atau penulis-penulis terkenal lainnya. Sia-sia mereka menjadi penulis terkenal jika bukunya dijadikan alas tidur yang benar-benar ampuh meninabobokan kekasihku ini.

“halo?” Terdengar suara setengah mengantuk dari sebrang. Aku tertawa kecil.

“Kok malah tertawa?” nadanya merengek dengan suara-suara serak. Kutebak ia masih memejamkan matanya

“Dasar, kenapa waktu hujan tidak pernah dinikmati? Malah tidur”

“Aku sedang menikmati senjanya, bukan hujannya”

“Senja milik Alina?”

“Milikku juga tahu, Seno itu kekasihku”

“Kukira, coklat kekasihmu”

“Iya, Iya, Seno kekasihku yang ke 12 setelah coklat-coklat iu”

“Kasihan Seno, di-duabelaskan oleh tukang tidur”

Sampai hujan reda, kami baru menyelesaikan percakapan ditelefon, untung saja sekarang menelfon pakai kuota, tidak usah bingung jika telefon tiba-tiba terputus karena kehabisan pulsa.

Malamnya, aku segera menjemput Ella untuk makan malam lengkap dengan dua bungkus Cadburry almond favoritnya. Entah kenapa jalanan yang basah ini terlihat sangat romantis untuk dinikmati sambil makan malam, belum lagi lampu-lampu gedung menjulang yang terlihat cantik jika dilihat dengan mata telanjang. Aku memang suka hujan, sedangkan Ella sangat mencintai senja— walaupun tak sebesar rasa cintanya kepada coklat.

“Senja itu indah, setiap hari warnanya berbeda-beda, Biru muda, merah muda, ungu, keemasan, jingga favoritku! Rasanya yang tak tertarik dengan senja hanya kamu, aneh.” Jawabnya kala itu saat aku menanyakan bagaimana bisa ia mencintai senja. Jika perihal coklat, tak patut ditanya.

“Kalau senja sedang mendung dan kelabu? Gimana?”

“Ah kamu! Kenapa selalu ambil sisi buruknya? Mbokya seperti Seno Gumira yang selalu menceritakan indah-indahnya senja saja”

Aku tertawa sendiri mengingat wajah lugunya yang belepotan coklat saat itu. Malam ini, akan kubawa ia untuk menemui salah satu sisi indah dari hujan.

 Sesampainya di depan kost Ella, aku mengeluarkan ponselku dan menelfonnya. Tumben sekali ia belum siap sedia di depan pintu, biasanya saat aku baru mengatakan ‘sudah dijalan’ ia pun sudah siap dan menungguku di depan rumah kost. Setelah ke-tiga kalinya aku menelfon dan belum juga diangkat, aku mulai curiga, apa yang dilakukannya sampai-sampai tak sempat menangkat telfonku? Kukirimkan pesan di whatsapp, Namun centang satu pertanda data ponselnya tidak diaktifkan. Aku menelfonnya dengan nomor telfon, berulang-ulang seperti sebelumnya. Jarang sekali ia seperti ini, tidur pun ia akan selalu mengaktifkan datanya

Aku bosan menunggu, menelfon, mengirim pesan dan menggerutu dipinggir jalan. Apa ajakan makan malamku ini tidak lebih menarik dari batangan coklat dan novel senja-nya? Atau aku yang tak lebih menarik dari zona nyamannya? Kapan ia sekali saja berhenti menyibukkan diri dengan coklat-coklatnya yang memuakkan dan mulai berada disampingku setiap saat aku membutuhkannya?

Segala pertanyaan-pertanyaan ini muncul begitu saja di kepalaku, turun ke hati menjada rasa marah, kecewa, cemburu dan muak. Dua bungkus cadburry almond dalam kantung plastik hitam yang kugantungkan di motorku tiba-tiba terasa seperti racun yang tidak sama sekali ingin kulihat. Kulempar kantung itu kesembarang arah. Aku kecewa, sudah kesekian kalinya ia memilih coklat dibanding aku.

Motorku kuparkir dipekarangan rumah kost Ella. Dengan mencoba tenang, aku masuk ke rumah kost yang dominan adalah mahasiswi-mahasiswi sibuk skripsi. Disini hanya Ella yang paling muda, mahasiswa baru yang tidak pernah tau bagaimana membuat skripsi. Kuketuk pintu kamar dengan nomor 18 yang terlihat penuh dengan tempelan-tempelan kartun dan satu tempelan yang bertuliskan “ELLAUSA”. Tak perlu sampai berulang kali mengetuk, Pintu sudah terbuka. Sayangnya, yang berada dibalik pintu itu bukanlah kekasihku, Ella. Melainkan seorang laki-laki berkacamata, dengan kaus tanpa lengan bertulis ‘BALI TOLAK REKLAMASI’. Aku sama sekali tidak mengenal lelaki ini. Melihatnya dekat dengan Ella bahkan tak ada cerita Ella tentang lelaki ini, atau bagaimana caranya ia bisa kenal dan berdiri didalam kamar Ella malam ini.

“Cari Ella?” Wajahnya lugu namun terkesan mengejek bagiku. Amarahku yang sempat padam kembali tersulut berbahan bakar rasa cemburu. Tanpa ba-bi-bu, kepalan tanganku kuarahkan ke wajahnya sampai aku melihatnya membiru. Dan tiga kali hantaman, pengecut ini tumbang tanpa sempat memberi balasan.

“NGAPAIN DI SINI?” kutarik cepat-cepat kaus buntungnya. Terjadi kegaduhan disini yang menimbulkan para penyewa kost yang dominan mahasiswi keluar dan berteriak-teriak histeris melihat lelaki didepanku ini yang sedang mengeluarkan darah dari hidung. Begitu pula Ella yang mendengar kegaduhan ini langsung keluar dengan silverqueen ditangan kanannya.

“SIAPA DIA? NGAPAIN DIA DISINI?” sambil masih kuangkat tubuh kering si pengecut. marah, kecewa, cemburu dan muakku termuntahkan dengan kalimat ini yang kutujukan kepada Ella. Entah terdengar seperti apa kalimatku barusan, sampai-sampai membuat kekasihku ini menitikkan air mata sebelum berkata-kata.

“Sebenarnya, sudah beberapa minggu ini aku ingin putus dengamu fan, aku ingin menjalin hubungan dengan fahmi, orang yang kau angkat-angkat ini. Tolong turunkan dan biarkan aku pergi dengan yang lebih memahami.

Kalimatnya tercerna sempurna didalam kepalaku, merangkai kembali kenangan selama ini. Menikmati hari-hari dengan coklat-coklat Ella pun sudah menjadi kebiasaanku. Bau coklat dari berbagai bentuk makanan sambil mendengar ocehannya yang terdengar lugu. Dan sekarang? Ah, kalimatku tersendat didalam kerongkongan. Si pengecut yang masih memperhatikanku dan Ella kulepas begitu saja, mataku tak sekalipun berpaling dari Ella yang terus menangis. Tak habis pikir, kecewa ini dibuatnya begitu hebat. Tanpa sanggup lagi, aku keluar dari kost-an mahasiswi ini. Meninggalkan kekasihku dengan pengecut yang entah akan berbuat apa nantinya. Bagaimana pun, aku tidak akan rela Ella disakiti lelaki lain semacam pengecut kurus kering itu.

Pukul 2.45 dini hari, mataku tak lagi bisa merasakan kantuk. Aku menangis semalaman. Biar dibilang aku tak pernah takut untuk mengayunkan tangan ke wajah orang, tapi aku pun bisa menangis untuk hal-hal seperti ini. Ella amat berharga bagiku selama ini.

Sampai kapan pun aku tak akan rela membiarkan Ella jatuh ke tangan orang lain. Kubawa dendamku kembali ke kost-an Ella. Kali ini, aku menggunakan mobil. Aku tahu betul bagaimana cara masuk ke rumah kost Ella walau pintu depan terkunci. Masih ada pintu dapur di belakang rumah yang tak pernah dikunci karena pengamannya rusak dan tak pernah diganti. Meski begitu tidak pernah ada penyusup, kecuali aku hari ini.

Aku beridri di depan kamar Ella, membawa handuk kecil dengan obat bius cair. Sebelum seseorang melihatku, baiknya aku segera masuk tanpa mengetuk. Aku masih sangat hafal dimana letak Ella menyimpan kunci pintunya yang mudah terjangkau tangan dari luar. Pintu terbuka. Kamar kost yang tak seberapa luas ini masih terlihat rapi seperti terakhir aku berkunjung. Tubuhnya terlelap di atas kasur bersama pengecut babak belur. Sayangnya, tak ada waktu bagiku menghajar lelaki ini. Kusekap pengecut ini terlebih dahulu agar tak terbangun saat aku menggeret Ella. Ia sempat terbangun namun belum sempat melakukan perlawanan, dasar bedebah!

Setelah itu, kulakukan hal yang sama kepada Ella. Bedanya, si pecundang ini kutinggalkan dengan perasaan jijik sedangkan Ella kugendong dan ku tidurkan di jok belakang. Kusekap ia dan kududukkan di kursi kayu. Kututup mulutnya dengan lakban. Kuikat tangan dan kakinya, dan kusisakan beberapa coklat batangan dipangkuannya. Aku menatapnya dari sebrang, menunggu ia terbangun di ruangan berdebu ini. Tak ada cahaya masuk, tak ada angin segar, tak ada kekasih baru.

Ternyata efek obat bius ini sangat lama. Sampai maghrib tiba ia baru terbangun dari tidurnya. Ella menatap lurus kearahku. Memalingkan wajahnya ke sudut-sudut ruangan. Dan berhenti pada kuali besar, alat penggiling dan beberapa alat memasak lain yang sengaja kusiapkan disampingku. Dahinya mengkerut, dan mulai resah lalu kembali menatap kearahku.

Aku tak lagi sempat mengucap kata perpisahan, apalagi membuat kegaduhan. Aku hanya tak ingin merelakan kekasihku menjadi milik orang lain. Kuambil pisau army kecil dari saku belakang, kusentuh-sentuhkan pisau kecil ini ke dahinya, turun sampai ke ujung kaki. Masih dalam keadaan tersekap dan kebingungan, Ella mulai meronta-ronta.

“Kau bisu sekarang” kataku tepat disamping telinganya. Setelah itu kurobek semua bajunya, sampai tersisa kulit-kulit yang menjadi penghalangnya. Kucongkel kuku-kukunya membuat darah mengalir. Tangisannya terdengar hebat. Ya, seperti saat aku menangisinya malam kemarin. Setelah ke-20 kukunya terlepas, aku mulai menikamkan pisau ku ke perutnya, sampai lumer darahnya yang kecoklatan, mungkin karena sudah tecampur puluhan bungkus coklat setiap hari. Sekarang tak ada lagi tangisan. Tubuhnya lunglai jatuh kesembarang arah. Bau tubuhnya menyeruak kemana-mana. Kuelus-elus tubuhnya, kukuliti perlahan, dan kupotong-potong. Tubuhnya telah menjadi bentuk-bentuk tak beraturan kukumpulkan terpisah dengan organ dalam.

 Dengan biji kokoa yang telah melewati fermentasi, pemanggangan dan winnowing. Aku memasukkannya kedalam mesin penggiling. Tubuh Ella yang telah terpisah-pisah kugiling pula. Setelah itu kutuang coklat yang telah menyatu dengan tubuh Ella kedalam kuali besar. Kutumpahkan pula darah-darah kecoklatan Ella. Kuaduk cairan kental itu. Kutuangkan puluhan kaleng susu dan beberapa bungkus gula. Ella pasti suka coklat manis.

Kucetak menjadi coklat-coklat batangan dan kuletakkan semua kedalam freezer. Sudah kubilang, aku tak kan membiarkan Ella dan kesenangannya yang telah menjadi favoritku jatuh kedalam pelukan orang lain. Kali ini, aku berjanji tidak akan lagi memarahi Ella, membentak atau membuatnya menangis. Ia milikku seutuhnya.

Setiap hari, kekasihku jatuh cinta dengan kakao manis. Bahkan ketika cintanya hilang, Ia rela jatuh untuknya, untuk sesuatu yang manis. Kini, Sesuatu yang manis itu telah menelannya hidup-hidup. Entah melayang ke nirwana yang mana, namun Ia benar-benar jatuh untukku kali ini. Kekasihku adalah maniak coklat. Kemanapun perginya, disegala sisi saku dan tasnya terselip coklat-coklat batangan. Dari yang berwarna pekat sampai coklat putih. Untungnya, kali ini ia memliki kakao dalam dirinya sendiri. senyumnya semanis coklat batangan menjadi alasan utamaku mencintainya, bahkan rela menyimpannya dalam kulkas.

Iklan

Perihal pergi daripada menyakiti

Kamu memang benar mengenai pergi daripada terus menyakiti. Namun hal-hal seperti ingin mengulang kembali segala cerita tidak pernah dapat dipungkiri. Mencintaiku mungkin semenyedihkan  itu, menyayangimu pun mungkin selelah itu. Namun, yang jauh lebih berat bagiku adalah ketika aku masih menyimpan takut menatap matamu saat kita bukan lagi siapa-siapa. Aku takut untuk kembali jatuh dengan fakta bahwa tak mungkin terbalas lagi. Sama halnya denganmu yang mengaku terlalu takut membuatku lara terus-menerus bahkan ketika kita tahu bahwa kita pernah sama-sama mencintai sebegitu hebatnya.

Sebenarmya kita hanya terlalu apatis. Namun tak apa, karena yang bersuara pun akan menemui titik menyerahnya. Semua ada masanya. Hinga suatu saat nanti, aku masih bertahan dengan masaku sendiri, aku janji tak akan memintamu bertahan di fase yang sama meski dalam metode yang berbeda. Aku juga tidak akan memintamu menoleh sedikit saja untukku. Kamu bebas untuk beralih. Mencari dan terus mengejar yang pernah ada atau orang-orang baru yang akan kamu temui. Dan biar aku saja yang tetap di fase ini. Menikmati setiap lara yang sebenarnya, aku sendiri penyebabnya. Kamu tak lagi perlu merasa bersalah. Tak apa. Kumohon jangan menetap hanya karena kasihan. Lanjutkan hidupmu. Jaga hatimu agar nanti tak terlalu jatuh pada orang yang salah.